Only I didn’t know
CHAP 2
annyong aku bawa ff baru iu-min woo,ff ini terinspirasi dari sebuah novel. moga suka yaaa J
Title : Only I didn’t know
Author : Choi Raeu—Ginger Choi –Kyoko uchira
Rating : PG-13
Cast : IU a.k.a Lee Ji eun
No min woo a.k.a Min woo
Genre : angst, romance, family, friendship
Don’t Bashing !!!
And leave a comment after you read !
Dont be a Silent Reader !!!!!!!!
HAPPY READING…
Before part >>
“Saranghae..” gumam jieun. Dengan terpaksa, jieun pun langsung pergi meninggalkan minwoo untuk terbang ke japan.
“Nado..” lirih minwoo.
Minwoo pov
Kenapa kau meniggalaknku disaat aku membutuhkanmu? Kata-kata terakhirmu yang membuatku bahagia itu masih terngiang di telingaku. Aku benar-benar bahagia saat kau bialng kau mencintaiku. Aku akan selalu menunggumu jieun. Aku akan selalu mncintaimu.
---
2 month later..
Minwoo pov
Sekarang aku sedang menunggu pesawat dari jepang terjun (?). aku meremas tanganku gugup. Bagaimana ya penampilan jieun sekarang? Sekarang penampilanku juga berbeda. Aku mewarnai rambutku sedikit cokelat dan aku sedikit meng-curly rambutku. Bagaimana ya responnya?
Minwoo pov end
Author pov
Minwoo menemukan jieun dan kedua orang tuanya. Jieun tersenyum lebar, minwoo melihat penampilan jieun, jieun sekarang berambut pendek. 
“Kau potong rambut?” Tanya minwoo. Jieun diam sebebentar dan menoleh ke arah orang tuanya. Tak mungkin jieun bilang ‘Ini bukan dipotong, tapi effect kemoteraphy!’. Jieun tersenyum.
“ne. kau mewarnai rambutmu?” Tanya jieun. Minwoo nyengir gaje.
“Otthe? Badang?” Tanya minwoo PD. Jieun mengembungkan pipinya terkekeh.
“Kau selalu tampan minwoo-ah..” jawab nyonya lee membuat minwoo PD selangit (?). jieun menyikut tanagn ammanya
“Amma, dia selalu jadi gila bila dipuji” canda jieun.
Mereka berempat pun langsung masuk ke mobil minwoo dan pulang ke rumah jieun.
At Jieun’s Room
Minwoo membantu membantu jieun untuk membereskan pakaian dan kamarnya.
“Jieun-ah..” panggil minwoo kecil.
“Hmm?” jawab jieun sambil terus melipat bajunya tanpa menatap minwoo
“Waktu itu.. apa kau serius??” tany minwoo menatap jieun lekat. Jieun berhenti dari aktifitasnya, masih belum menatap minwoo.
“Aigooya.. itu sudah lama” jawab jieun sambil mencubit kecil hidung mancung minwoo.
“Ani. Itu baru 2 bulan yang lalu. Aku serius jieun-ah..” ucap minwoo. Jieun hanya tersenyum manis.
“Kalau iya?” Tanya jieun miserius. Minwoo hanya tersenyum senang.
“kalau tidak?” goda jieun. Minwoo mengerucutkan bibirnya.
“Ne! No Min Woo! Saranghaeyo.. apa itu yang kau harapkan?” tanay jieun sambil tertawa kecil
“Hmm gumowo, NADOOOOOO” jawab minwoo sambil meneriakkan kata na do.
Mereka berdua tersenyum senang.
“kau mau menjadi yaeoja chinguku?” Tanya minwoo malu-malu dan berhati-hati. Jieun hanya tersenyum dan mengangguk malu. Minwoo langsung berteriak histeris bagaikan seorang fans yang melihat idolanya. Jieun tertawa keras melihat tingkah minwoo.
“Jieun-ah.. besok kita picnic! Kau harus mau!” ucap minwoo
“Memangnya ada apa?” Tanya jieun
“Mulai saat ini, kau kan jadi yeoja chinguku. Jadi besok kita rayakan dengan picnic. Waktu kau pergi ke jepang juga kau menolak ku. Sekarang kau harus mau!” ucap minwoo
“Ne. nae namja cingu!” jawab jieun.
---
Back song : Don’t touch my girl (Boyfriend)
“Kenapa lama sekali?” Tanya jieun yang sudah menunggu minwoo dari tadi.
“Mian. Tadi aku di kejar anjingnya noona-ku. Hh” ujar minwoo sambil ngos-ngosan. Jieun tertawa.
“Kau selalu saja dikejar anjing noonamu” ledek jieun.
Minwoo tertawa dan merekapun memulai picnic cinta ala mereka. Mereka memasak makanan picnic dan mendengarkan music bersama.
Jieun mulai lelah, dia akhirnya tertidur di pundak minwoo.
Minwoo tersenyum senang. Ditangan kirinya, sekarang dia sedang menggenggam sebua cincin yang akan di serahkan pada jieun. Minwoo mulai mengantuk dan tertidur dengan jieun. Setelah beberapa menit, jieun bangun dan mendapati minwoo tidur di kepalanya. Jieun menyentuh pipi minwoo dan tiba-tiba minwoo terbangun.
“Kau bangun? Apa sentuhanku mengganggumu?” tanya jieun. Minwoo hnay tersenyum dan menggeleng.
“Sebaiknya kita pulang, hari sudah petang. Jieun-ah besok hari libur, kau mau kan menghabiskan waktu denganku?” Tanya minwoo
“Tentu” jawab jieun.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing
---
KEESOKAN HARINYA.
Jieun dan minwoo berjalan-jalan di sekitar taman kota, hari minggu ini taman begitu sepi hanya ada beberapa pasangan yang menghaviskan libur bersama.
“Jieun-ah.. aku ke taman atas ya, aku akan membelikan es krim untukmu.” Pamit minwoo, jieun hanya mengangguk dan menunggu minwoo di kursi taman.
“Ahhhhhhhhhhhh..” tiba-tiba minwoo berteriak, dan jieun yang mendengaarnya langsung panic dan langsung berlari ke taman atas, dicarinya minwoo ke mana-mana. Jieun mulai panic dan berbalik dan dilihatlah minwoo memegang 2 eskrim sambil tersenyum. jieun memasang muka sedih.
“Mian.. ini hanya kejutan kecil” ucap minwoo sambil mengulum senyumnya.
“Untunglah kau tidak apa-apa.” Jawab jieun.
Tiba-tiba handphone jieun berbunyi, ternyata telpon dari appanya. Jieun pamit pada minwoo untuk mengangkat telpon.
“Yeopseo? Appa? Wae?” Tanya jieun lembut, jieun sudah mengetahui bahwa appanya menelpon untuk member tahu kemajuan keadaan jieun.
“Jieun-ah..” tuan lee bicara sambil terisak.
“Appa waeyo? Apa yang terjadi?” tanay jieun yang mulai terisak
“kau harus melakuakn kemoteraphy untuk 3 tahap lagi. Mianhae jieun-ah, ini kepuusan dokter. Maaf appa bohong” jawab ytuan lee yang benar-benar menangis. Jieun juga ikut menangis
“guenchanayo appa..” jawab jieun dan langsung menutup telponnya. Jieun benar-benar mennagis.
daan tiba-tiba minwoo menutup mata jieun. Minwoo merasakan tangannya basah.‘dia menangis?’ bain minwoo. Jieun menghapus air matanya dan membalikan badannya menghadap minwoo sambil tersenyum
“Neo? Menangis? Wae geure?” Tanya minwoo sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipi kiri jieun.
“Aniyo” jawab jieun cepat. Minwoo hanya diam, bila dia menjawab ia taut jieun marah dan tak ingin bicara dengannya.
“Kajja, aku antar pulang.”
---
“Kenapa jieun belum datang? Apa dia telat?” gumam minwoo. Berkali kali minwoo mundar mandir dan melihat keluar jendela, dudu, mundar mandir, meliha keluar jendela dan begitu seterusnya. Hingga pada saatnya bel masuk pun menggema
RING DING DONG RING DING DONG
“Semuanya, masuk?” Tanya sosaengnim
“Chogi.. jieun belum masuk” kaa minwoo sambil mengacungkan telunjuknya. Semua murid terdiam.
“Eh, jieun.. ada urusan, tadi tuan lee menghubungi saya.” Dusta sosaengnim. Minwoo mengangguk mengerti.
‘Urusan apa? Kenapa dia tak member tahuku?’ batin minwoo.
Sepanjang pelajaran, minwoo hanya melihat ke luar jendela. Hatinya sedang kacau. Tak ada senyuman, tak ada candaan, tak ada tawa. Mungkin dia sedang galau.
---
“Dokter, apa setelah kemo tahap ketiga aku akan sembuh?” tanay jieun. Dokter yoon hanya tersenyum dan mengangguk
“Saya akan berusaha sebisa saya. Jieun, ingatlah. Tuhan sayang pada gadis cantik sepertimu. Tuhan pasti tak tega melihat mu terus menderita seperti ini.” Ucap dokter yoon.
4 jam berlaru, peluh yang ada di dahi nyonya lee pun di hapus oleh tuan lee. Nyonya lee tertidur pulas. Tak lama kemudian, dokter yoon keluar bersama jieun.
RUANG INAP JIEUN..
“sakitkah?” Tanya nyonya lee sambil megusap rambut jieun.
“Jugeun..” jawab jieun lemas.
“Kau harus kuat, ini untuk kesembuhanmu. Jika tuhan mengijinkan amma untuk menggangtikan posisimu ini, amma akan bilang pada tuhan agar penyakitmu ini berpindah pada amma, amma tak ingin anak amma kesakitan seperti ini.” Lirih nyonya lee
“Aniyo amma, janagn bilanbg seperti itu. slama amma menemaniku, rasa sakit ini akan hilang.” Ujar jieun. Nyonya le memeluk jieun erat sambil terisak. Begitup sebaliknya
“Kau adalah anak yang baik.” Ucap nyonya lee
---
Sudah 1 minggu ini jieun tak masuk sekolah, seiap minwoo bertanya pada teman-temannya, pasti mereka jawab “mollayo” dan itu membuat minwoo semakin penasaran, pernah suatu hari minwoo bertanya pada sosaengnim, dan sosaengnim menjawab dengan takut, hanya ada kata “Molla” yang di jawab oleh setiap orang yang minwoo Tanya.
Kemarin minwoo kerumah jieun dan kim ahjumma jawab jieun sedang keluar dengan appa dan amma nya. Minwoo mencoba menelpon jieun, tapi selu tak diangkat, pesan juga tak pernah di balas.
From : Minwoo :*
Jieun-ah neon eodiya? Kenapa kau menghindariku? Wae? Kau tak mencintaiku lagi? Apa ini sebuah kejutan? Aku mohon jangan begini. Hajima jieun-ah..
Jieun menangis melihat pesan minwoo.
To : Minwoo :*
Minwoo-ah, bisakah kau temui aku di sungai han? Aku ingin bicara.
Denang senyum lebar minwoo langsung menjawab iya.
Sudah 30 menit minwoo menunggu di sungai han. Tiba-tiba ada yuang menyentuh pundaknya, minwoo berbalik dan tersnyum lebar melihat jieun, jieun memakai topi yang menutupi kepalanya, tak terlihat satu helai rambut di kepalanya. Minwoo tak mengetahui bahwa jieun botak (?) yang dia tahu itu hanya topi biasa.
.
.
“Sebaiknya.. kita berpisah saja” ucap jieun berat, jieun tahu ini berat untuk mereka berdua, tapi jieun tak ingin minwoo merasa sangat kehilangan bila nanti jieun pergi untuk selamanya. Mata jieun mulai memerah
“Mwo? Apa maksudmu jieun-ah? Kau bercandakan?” Tanya minwoo
“Ani! Jinjayo minwoo-ah. Mianhae” lirih jieun yang menahan tangisnya
“Wae? Kau sudah tak mencintaiku?” Tanya minwoo yang mulai meneteskan air matanya.
“Ne! aku tak mencintaimu lagi! Wae?” Tanya jieun yang masih menahan tangisannya.
“Ani! Andwae yo. Neon? Bohongkan? Gojitmalyo jieun-ah.. aku tahu kau bohong. Hentikan semua ini, bicara yang jujur padaku. Aku mohon, Geojitmal jieun-ah.. irago jangnan ieottdago ppalli malhaeyo... Jebal...” minwoo menggenggam tanagn jieun erat. Minwoo memeluk jieun erat sambil terus terisak. Jieun menangis dan langsung menghapus air maanya. Dengan terpaksa, jieun melepaskan pelukan minwoo dan langsung berlari meninggalkan minwoo sendirian yang masih menagis.
---
From : Minwoo :*
Jieun-ah, hajimalyo. Aku mohon. Aku masih mencintaimu? Bukannya kau juga begitu? Kau pernah bilang bahwa kau akan selalu mencintaku seumur hidupmukan? Bahkan kau bilang setelah dewasa nanti kau ingin bersamaku? Jadi hentikan candaan ini jieun-ah.. jebah..
To : Minwoo :*
Aku tak bohong minwoo-ah. Mianhae. Aku melakukan ini, tapi ini kenyaaan. Aku tak ma uterus bohong mencintaimu padahal hatiku bertolak belakang dengan ucapanku. Maaf aku menjadi yeoja yang jahat seperti ini. Mianhae..
From : Minwoo :*
Ani! Aku tak percaya, poonya sampai detik ini dan seterusnya, kita akan selalu bersama! Titik!
Jieun hanya menghela nafas.
“Kau siap?” Tanya dokter yoon. Jieun menganggukkan kepalanya.
---
“Kau lihat jieun? Apa dia masih belum sekolah?” tanay minwoo. Sun young hanya diam dan emnghela nafas.
.
.
“Ini adalah makam jenazah jeun minwoo-ah..” irih sun young
“Ani! Kau bohongkan? Kemarin jieun dan bertemu di sungai han. Ini tak mungkin dia, dimana teman-temanmu? Cepat keluar, jangan bersandiwara sperti ini!” teriak minwoo
“Ani minwoo-ah. Ini sungguhan. Ini adalah rekaman yang ia berikan kemarin. Aku pulang dulu” pamit sun young
---
Back song : Only I didn’t know (IU)
Minwoo pov
Aku memutar rekaman yang diberikan sun young tadi
‘jeongmal neon da ijeotdeora
bangabge nal boneun neoui eolgul boni’
kenapa jieun gundul (?) apa yang sebenarnya terjadi?
‘Anyeong minwoo-ah.. otthe? Gauku bagus? Aku ingin memakai ini setelah nanti kita dewasa. Otthe? Yeoppo?’
Ya.. kau selalu cantik dimataku. Aku juga berharap gaun itu akan kau pakai nanati setelah kita dewasa di altar.
‘geujeya eoryeompusi apaodeora
sae sal chaoreuji mothan sangcheoga’
‘Maaf atas kata-kataku yang kemarin di sungai han. Aku terpaksa mengucapkan itu, aku tak ingin kau merasa sanagt kehilangan bila aku meninggalkanmu.’
Aku lebih terpukul dan sangat kehilangan saat kau bilang kau tak mencintaiku lagi jieun-ah.. caiiran bening keluar dari mataku? Jieun-ah tolong hapus air mata dan luka ini jieun-ah.. jebal
‘ Maafkan aku atas semuanya, sebenarnya.. minggu kemarin aku tak sekolah karena aku sakit. Kau jangan hawatir, aku hanay sakit biasa. Jangan khawatirkan aku ya, janagn menghiraukan aku, aku mohon focus lah pada sekolahmu, bukannya kau bilang ingin menjadi actor? Jadi actor itu harus pintar, jangan bodoh sepertimu.. hahaha’
Bahkan saat kau sakit kau masih bisa tertawa? Kau sangat manis bila tertawa.
Author pov #back song masih lanjut
Tiba-tiba rekaman itu memutar video yang terlihat jieun sedang tertidur di kasur pasient denagn banyak alat medis di tubuhnya.
Sun young :‘Jieun adalah sahabat paling baik, dia mampu bertahan di saat ia menderita kanker akut. Kalaus aja aku seperti jieun, pasti aku tak akan bertahan lama. Dia memang orang yang sangat baik. Jieu pernah berkata bahwa dia akan sembuh karena cinta dari orang yang mencintainya.’
Minwoo menangis.
Dokter Yoon :‘ penyakit ini menggerogoti tubuh jieun sudah sangat lama. Dia tak ingin teman, namja chingu, sahabat bahkan keluarganay tahu, saya sanagt tak tega saat melihat jeritannya pada saat kemoteraphy. Pernah sebelum melakukan kemoteraphy, dia bilang ingin sembuh karena amma, appa dan juga namja bernama Minwoo, semangatnya sangat tinggi. Tapi, aku tak tahu kenapa tuhan mengambil jieun dari kami, mungkin karena tuhan terlalu sayang, dia tak ingin melihat jieun terus di kemo. Saya benar belajar keikhlasan, kesabaran, bahkan semua hal dari jieun.’
‘sarangeun anieotdeora
nae gyeote meomuldeon siganieosseul ppun
ijeya eoryempusi argeotman gata
wae neon mianhaesseoyaman haetneunji
naega neomu deuldeosseotna bwa
ddeonaneun sunganmajeo gidaereul haesseotdani
eolmana useuwotdeon geoni’
Minwoo mulai terkulai lemas. Dan emnagis sejadi jadinya
Video tersebut memperkihatkan jieun sebelum masuk kedalam ruangan kemo.
‘minwoo-ah. Aku janji aku akan selalu tegar dan tetap semangat menjalani kemo ini. Aku akan sembuh dan kita akan bersama. Aku mohon jangan berpaling dari ku, ya! Aku akan selalu mencintaimu. Saranghae yo minwoo-ah.’
‘joheun ibyeoriran geo, gyeolgug sesangen eobsneun iriran geol
aratdamyeon geuddae charari da ureodulgeol
geuddae imi naraneun geon negen kkeutieotdaneun geon
naman mollasseodeon iyagi’
Kali ini minwoo menangis sambil menggenggam cincin yang dulu hendak di berikan pada jieun.
“jieun-ah.. aku tak sempat memberikan cincin ini padamu.” Lirih minwoo
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh” teriak minwoo
Minwoo pov
Kau benar-benar lupa segalanya
Melihat betapa cerianya kau menyapaku
Seketika kepedihan samar-samar mulai kurasakan
Luka yang kini muncul di kulitku
Air mata enggan menitik
Karena perpisahan ini bagai tak berarti
Karena ini serasa tak benar
Pada akhirnya tak kan ada ucapan selamat tinggal yang indah
Jika kutahu, ku kan menangisi semuanya
Saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu
Sebuah cerita yang hanya aku tak mengetahui
Jadi itu bukanlah cinta
Hanyalah sejenak waktu yang kau habiskan disampingku
Kini samar aku mulai mengerti
Mengapa kau hanya bisa meminta maaf
Pastilah aku terlalu berharap
Saat kau meninggalkanku, aku berharap kau kembali
Betapa bodohnya aku?
Pada akhirnya tak kan ada ucapan selamat tinggal yang indah
Jika kutahu, ku kan menangisi semuanya
Saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu
Sebuah cerita yang hanya aku tak mengetahui
END