Cast :
· Yang Ji Won
· Jo Twins
Other
· Boyfriend’s member
· Kim Naeun
Author : Choi Ra eun—Ginger Choi
Genre : Romance, friendship, school life
Length : chaptered
Rating : PG
Genre : romance
FF ini terinspirasi dari sebuah film Taiwan. Maaf kalo kurang suka. Sebelumnya hargain author atas ff ini, paling nggak like or coment. Just enjoy.. pyong!!
Author
“Saenggil cuka hamnida.. saenggil cuka hamnida.. saranghaneun jiwonie saenggil cuka hamnida..” ucap naeun sambil menyerahkan sebuah kue tar pada jiwon yang mendadak terbangung karena suara naeun. jiwon mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat jam dinding. Tepat jam 00:00
“Gumawo naeun-ah..” ucap jiwon sambil memeluk naeun. “Sebelum kau meniup lilinnya, kau ucapkan keinginanmu.” Ucap naeun. Dengan cepat, jiwon memenjamkan matanya dan mengatakan keinginannya didalam hati. Setelah itu, jiwon membuka matanya dan meniup lilin kue itu. Mereka berdua tersenyum.
“Boleh aku tau apa keinginanmu?” Tanya naeun sambil memakan potongan kue yang tadi jiwon berikan padanya. “Andwae. Bimil..” ucap jiwon. Naeun mengangguk mengerti. “semoga keinginanmu terkabulkan.” Ucap naeun. “Gumawo naeun-ah..” jawab jiwon.
Naeun berdiri dan lantas mengambil sesuatu di dalam lemarinya. Dan kemudian kembali kearah jiwon dan memberikan bingkisan kecil itu. “Hadiah??” Tanya jiwon sambil tersenyum senang. Naeun mengangguk meng-iyakan. Dengan tiddak sabaran, jiwon mengambilnya dan membukanya perlahan.
“Hmm?” gumam jiwon. jiwon lantas menatap naeun yang sedang tersenyum padanya. “Kenapa hanya kertas? Kau mencoba untuk menipuku ya?” Tanya jieun sedih. “Baca dulu babbo!!” ucap naeun. jiwon membuka kertas itu dan bertuliskan.
Hari ini, namja ke enam yang kau temui akan menjadi kekasihmu
“Benarkah?” Tanya jiwon senang. “Pasti, aku juga pernah mencobanya dan itu benar.” Jawab naeun. jiwon menggenggam kertas itu dan tersenyum senang.
“Semoga saja..” gumamnya.
Author
Jiwon melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia tampak ragu untuk membuka pintu, dia menggigit bibir bawahnya takut. “Sudah biar aku yang buka pintunya” ucap naeun sambil membuka pintu asrama. Jiwon menghela nafas nerat dan membuka matanya. Dilihatnya Jinyoung yang sedang sarapan.
“Hyunseong oppa???” Tanya mereka berdua serempak sambil menunjuk kearah hyunseong. Hyunseong menoleh kearah jiwon dan naeun. “Ada masalah?” Tanya hyunseong bingung. Kedua yeoja itu menggeleng dan lalu pergi.
Yang Jiwon
Sudah empa namja yang aku temui hari ini, mulai dari hyunseong oppa, naeun sempat menitikan air mata karena dia menyukai hyunseong oppa, tapi untungnya hyunseong oppa orang pertama. Setelah itu, aku melihat seorang namja yang cukup tampan, aku tak tahu siapa dia, dia agak pendek dan rambutnya berwarna cokelat, matanya sipit dan indah.
Namja ketiga yaitu seorang namja yang tampan dan berkulit putih milky, mungkin umurnya sudah lebih dari 20 tahun, karena kalu dilihat2 namja itu mungkin sudah kuliah.
Setelah itu, aku melihat seorang namja bersama yeoja, yeoja itu sepertinya pacarnya, namja itu cukup manis, bibirnya yang tebal hidung mancung dan mata sipit. Seperti anak kecil.
Dan sampai namja keempat itu, aku belum melihat lagi namja di taman. Biasanya banyak namja disini.
“Jiwon-ah.. aku ingin beli eskrim itu..” ucap naeun, aku menoleh dan mendapati ahjussi pedagang eskrim itu, ahh sial untung saja ahjussi itu namja kelima. Aku mengangguk lalu naeun menggandengku dan mengajakku membeli eskrim itu.
Setelah membeli eskrim itu, kami melangkahkan kakiku menuju pohon di taman. Naeun tersandung dan dengan tak sengaja dia mendorongku. Eskrimnya berlumuran di bajuku dan ekrimku mengenai.. sepatu seseorang.
Aku mendongakkan kepalaku keatas dan mendapati duaa namja yang berwajah sama. Apa mataku sudah tak berfungsi dengan baik? Kenapa wajahnya jadi dua? Tapi rambut mereka beda.
Aku berdiri dan membersihkan sisa eskrim di bajuku. “Cusonghamnida..” ucapku sambil membungkukkan badanku. “Ya! Lihat sepatuku jadi kotor!!” teriak namja yang berambut hitam. “Mianhae, aku bisa menggantinya. Atau aku akan mencucikannya” ucapku. Kulihat dia tersenyum sinis dan menatapku tajam. “Ya! Kau ini! Aku bisa membelikan sepatu yang sama!” teriakku. Naeun mendekatiku. “Jadi namja keenam siapa??” Tanya naeun. Kulihat namja yang berambut hitam dan berambut cokelat itu menoleh kearah naeun. “Molla” ucapku.
Jo Youngmin
Besok adalah hari ulang tahun hyunmin, songsaengku. Aku dan kwangmin akan membeli hadiah untuknya di toko boneka di seberang café langgananku. Aku bingung harus membeli apa untuknya. Yang aku tahu, dia menyukai banana.
“Hyung!” panggil seseorang yang kuyakini itu kembaranku, kwangmin. “Wae?” tanyaku malas. Dia mendekatiku dan duduk di sampingku. “kau akan memberinya apa?” tanyanya. Aku memutar bola mataku, malas. Kukira ada suatu yang penting.
“Mungkin banana” ucapku. Dia mengangguk lalu pergi meninggalkanku. Aneh.
“hmm sebentar lagikan ulangtahunku.” Gumamku
“youngmin-ah.. palli mogo!!” teriak amma dari bawah. “ne” sahutku. Dengan malas, aku melangkahkan kakiku dari kamar dan menuju meja makan.
Author
“kapan kau akan membayar uang asrama mu??” Tanya seorang ahjumma gendut yang sedang menggerakkan kipasnya kekanan dan kekiri. Jiwon hanya menunduk takut. “Ya!! Aku bilang kapan kau akan membayarnya??!!” teriak ahjumma itu, jiwon terbelalak dan tubuhnya termundur sedikit.
“Aku janji minggu depan akan membayarnya ahjumma. Minggu ini ibuku belum mengirimkan aku uang.. jebal.” Mohon jiwon sambil berlutut memohon. Ahjumma itu memutar-mutarkan bola matanya untuk berfikir. “oke, aku akan menagih kau minggu depan, jika kau tak membayarnya, maka.. ka!!” ucap ahjumma itu sinis. “Ne ahjumma, aku janji” ucap jiwon senang.
Ahjumma itu pergi meninggalkan jiwon. Jiwon menghela nafas lega lalu berjalan lemas kearah kamarnya—lebih tepatnya kamar dia dan naeun—.
Yang Jiwon
Aku melangkahkan kakiku kearah kamarku, kulihat disana naeun sedang mengetik di laptopnya. Aku mendekatinya dan melihat apa yang sedang ia ketik. “Kau sdang apa?” tanyaku. “Mengerjakan tugas dari Kim sosaengnim” ucapnya dingin tanpa menoleh kearahku. Aku menghela nafas berat.
“Wae?” tanyanya sambil menghadapkan tubuhnya kepada ku. “Aku harus membayar uang asrama minggu depan. Sedangkan amma belum mengirimkan uang sewon pun. Ottukhae??” tanyaku.
“Hmmm” dia berfikir sambil menepuk-nepuk dahinya. “Ahh” teriaknya. “Ada apa?” tanyaku. “Aku punya ide” ucapnya sambil menyetrikkan jari.
Jo Youngmin
Aku menyiapkan sarung tangan, helm, dan jaket kulit untuk balapan. Sekarang aku akan balapan di jalanan chungmuro. Semoga saja tidak ada polisi disana.
“Sudah siap hyung?” Tanya kwangmin saat aku mendekatinya di garasi. Aku mengangguk dan lalu menyalakan motorku.
Aku melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Begitupun kwangmin, kami sempat melakukan balapan singkat, tapi karena lampu merah, balapan itu menjadi tak asik.
Yang Jiwon
Aku menatap nanar kardus yang ada di hadapanku ini, apa naeun gila? Dia membuatkan dua kardus yng berisikan 10 helai kertas yang berisikan beda-beda. Dia menuliskan 10 pelayanan jasa—yang menurutku tak adil. Karena 10 kertas pada kardusku berisikan pelayanan jasa yang gila, mulai dari menjadi pengikut si korban selama 3 jam, sampai menjadi pembantu si korban sampai 3 bulan. Gila bukan?
Sehelai kertas dihargai 2000 won. Aku melangkahkan kakiku menuju halte bersama naeun. Setelah sampai di jalanan chungmuro, aku melihat banyak sekali pendatang disini, aku akan memulai aksiku, fighting yang ji won!!
“Silahkan coba ini, kardus ajaib!! Setelah kau membayar 2000 won, kau bisa memilih satu kertas dan mendapatkan pelayanan jasa. Silahkan!!” teriak naeun, aku mencoba berteriak seperti naeun walaupun malu.
Kulihat ada sekitar 3 orang yang mendekati naeun, sedangkan aku? Satupun tak ada. Aku mencoba berteriak lagi dan akirnya ada satu orang yeoja yang mendekatiku dan mencoba permainan gila naeun ini.
Jo Kwangmin
Aku dan youngmin hyung sampai di chungmuro. Kulihat banyak orang disini, mungkin mereka akan melihat lomba balapan disini. Kulihat minwoo dan jeongmin hyung melambaikan tangannya. Aku mendekati mereka dan bersalaman dengan mereka.
“Cobalah keberuntunganmu.. pelayanan jasa..” teriak seorang yeoja dan membuat kami berempat menoleh kearahnya. “Aku tantang kau untuk mencoba pelayanan jasa yeoja itu” ucap minwoo sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum lucu. Dia pikir aku akan menolak? Tidak. Kalau aku menolak, dia pasti menganggapku payah.
Lalu dengan langkah terpaksa aku mendekati yeoja itu, kulihat dia membelalakkan matanya saat melihatku, begitupun aku. Dia yeoja yang menumpahkan eskrimnya pada sepatuku. “Neo??” tanyanya. Aku menoleh kearah minwoo yang sedang tersenyum kearahku. Aku menghela nafas berat.
“Aku ingin mencoba permainan konyolmu ini” ucapku sedikit dingin. “Kau.. harus membayarnya 2000 won” ucapnya. aku mengambil dompetku dan mengambil uang 10000 won. “Ini, ambil saja kembaliannya!” ucapku. “Dasar, sudah tak sopan, sombong pula” ucapnya. “Cepat pilih satu kertas, disini hanya ada satu kertas lagi. Lalu bacalah” ucapnya sinis. Aku mengikuti petunjuknya dan lalu membacakan isi kertas itu.
“Bersama dengan ku selama 3 bulan..” itu adalah isinya.
“Mwoo????” tanyanya tak percaya.. aku membelalakkan mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar