Cast :
- Jo Gaeun (Dalshabet)
- Shin Dongwoo (B1A4)
Other :
- Dalshabet member
- B1A4 member
- Jung Soojung
Other :
Author : Choi Ra eun—Ginger Choi
Genre : Romance, sad, campus life
Length :
one shoot
Rating :
PG-17
A/N :
FF ini aku bikin buat nyelang ff sebelumnya. Soalnya ff sebelumnya belom
selese. Mian yaaa. Disini aku pasang Gaeun-shinwoo couple. Soalnya aku suka
banget sama couple ini.
Happy reading
**Author POV
“mau masuk
dulu??” Tanya gaeun saat shinwoo sampai di sepan rumahnya. Shinwoo mengangguk
dan mereka pun masuk kedalam.
“Rumahmu
rapi sekali.” Kagum shinwoo. Gaeun hanya tersenyum kecil. Malu.
“gumawoyo..”
ucap Gaeun.
“Kau yang
membuatnya?” Tanya shinwoo pada sebuah keranjang bunga yang bentuknya unik.
Gaeun menoleh dan mengangguk.
“Ternyata
kau juga kreativ ya. Aku suka yeoja sepertimu.” Ucap shinwoo.
Gaeun
langsung terdiam, begitupun shinwoo. Mereka saling pandang. Dan tercipta lah ke
canggungan. Gaeun memalingkan wajahnya kea rah tas dan menyimpan tasnya ke kamar.
Sedangkan shinwoo langsung duduk dan diam.
Gaeun
kembali dengan 2 capuchino hangat di tangannya. Shinwoo membantu membawakan
gelas yang satunya dan menyimpannya di meja.
“Ahh
gumawoyo..” ucap gaeun. shinwoo hanya tersenyum simpul.
“hmmm tidak
pernah ada yang kesini sbelumnya, aku merasa sangat senang sekali bila ada
teman mengunjungi rumahku. Rasanya hangat” ucap gaeun tiba-tiba.
Shinwoo
menoleh kearahnya dan menatap gaeun.
“jadi, aku
adalah orang pertama yang mengunjungi rumahmu?” Tanya shinwoo. Gaeun
mengangguk. Ada rasa senang terhadap pengakuan gaeun.
“Silahkan
diminum” ucap gaeun. shinwoo mengangguk lalu meminum capuchino buatan gaeun.
rasanya manis, seperti gaeun.
--
“Hati-hati..”
ucap gaeun. shinwoo melambaikan tangannya lalu melajukan mobilnya pulang.
“Dia baik
sekali. Tuhan apakah ini namanya cinta? Sungguh aku baru pertama
merasakannya..” ucap gaeun senang. Dia tidur sambil mendengarkan music lewat
i-pod nya.
“jaljayo
shin dong woo..” ucap gaeun lalu tertidur.
**Author
POV
Hari demi
hari mereka lalui bersama. Sekarang gaeun sudah mempunyai pekerjaan baru
sebagai pelayan di café sekaligus mengajari murid sd belajar matematika dan
inggris.
Setiap
pulang dari café tempat gaeun bekerja, shinwoo selalu saja menjempuntnya.
Sehingga Subin, teman se pekerjaan gaeun menggodanya. Banyak yang beranggapan
bahwa mereka pacaran. Jika ditanya pasti mereka hanya senyum tipis dan
menggeleng. Entahlah, mereka seperti begitu tak ingin mengakui mereka pacaran.
Besok
adalah hari Valentine. Gaeun menyiapkan satu toples besar cokelat buatannya.
Dia membuat itu khusus untuk shinwoo.
“Semoga dia
menyukainya..” ucap gaeun setelah selelsai membungkuh cokelat itu pada sebuah
wadah berbentuk persegi dengan bungkus kado berwarna pink tua dan berpita.
Dengan
penuh rasa bahagia, gaeun meraih ponsel nya yang berada di saku celananya dan
mengirim pesan singkat pada shinwoo.
To : Shin Dong Woo
Shinwoo-ya,
apakah besok kau ada acara? Aku ingin bertemu denganmu. Bolehkah? Temui aku di
taman dekat café ya^^
From : Shin Dong Woo
Tidak
ada. Kau pasti merindukanku ya? Haha iya, aku akan menunggumu sepulang kau
kerja. Jangan lama lama dan bawalah capuchino^^
**Shinwoo
POV
Aku duduk
di ayunan taman dekat café tempat gaeun bekerja. Tak lama kemudian aku
melihatnya melambaikan tangannya dan berlari kearahku. Aku berdiri dan
tersenyum kearahnya.
“Sudah
lama?”
“Aniyo, aku
baru saja datang”
Gaeun
tersenyum. Hening
“Hmmm ini
untukmu. Aku membuatkannya kemarin malam” ucap gaeun menyerahkan bingkisan
berwarna pink tua. Aku tersenyum tipis.
Apa ini??
Apakah coklat? Romantic sekali dia.
“Aku buka
ya” ucapku. Dia mengangguk. Aku
membukanya dan ternyata isinya cokelat. Bentuknya sangat lucu. Aku menatapnya
dan mengacak rambutnya gemas.
“gumawoyo”
ucapku padanya.
“Ne cheonmaneyo” jawabnya. Hening
“Boleh aku mencobanya?”
tanyaku. Dia mengangguk
“oette??”
tanyanya penasaran
“Rasanya
aneh..” ucapku smabil terus mengunyah cokelat itu. Kulihat dia
mengembungkan
pipinya. Aku tersenyum lalu mengacak rambutnya pelan.
“Kau lucu
sekali. Rasanya sangat enak, manis sepertimu” ucapku membuatnya bersemu merah.
“uh?? Bisa
saja” ucap gaeun malu. Aku menyerahkan satu cokelat kepadanya. Dia memakan nya.
“oh iya,
ini capuchino pesananmu.” Ucapnya sambil menyerahkan satu gelas capuchino
padaku.
“Kau
membawanya satu?” tanyaku. Dia mengangguk
“Ini, kau
juga harus minum.” Ucapku. Dia lalu meminum capuchino nya. Krimnya belepotan di
bibir atasnya. Dia tersenyum manis.
Dia meraih
tissue dan membersihkan bibirnya.
“Oh iya..
kau tau tidak sekarang hari apa??” tanyanya. Aku berpikir sejenak untuk
mengingat sekarang hari apa.
“Hmm hari rabu??” jawabku. Senyumnya terlihat
memudar. Kenapa? Aku salah??
“wae??”
tanyaku lagi.
“Anniyo”
ucapnya lalu terdiam.
--
Gaeun
membungkukkan badannya setelah turun dari mobilku. Sebelum akhirnya dia masuk
ke dalam rumahnya, aku menahan tangannya.
Dia menoleh
ke arahku dan menatapku bingung.
“Boleh aku
masuk?? Disini dingin sekali” ucapkku. Dia mengangguk lalu membuka gerbang
rumahnya.
Dia
menyerahkan segelas capucchino padaku. Sama seperti yang dia buat kemarin,
rasanya semakin hari semakin enak.
“Besok kau
ada kelas?” tanyaku.
“Ada. Wae?”
tanyanya.
“Hmmm aku
ingin mengajakmu kerumahku. Eotthe??” tanyaku. Dia terlihat berfikir sejenak.
“ne, jam
berapa??”tanyanya setelah sekian detik aku menunggunya untuk menjawab.
“Sepulang
kau kuliah. Besok jadwal café tak padat kan? Anak anak juga sedang libur kan??”
tanyaku memastikan. Dia mengangguk lalu meminum capucchino nya lagi.
Bagus.
--
“saatnya
aku pulang” ucapku. Dia berdiri lalu mengantarkanku sampai depan.
“hati hati
dijalan ya..” ucapnya sambil tersenyum. Aku mengangguk.
Dia
membalikkan badannya. Dengan cepat aku menarik tangannya dan..
Chu..
kulihat dia
membelalakkan matanya. Dia mendoronku namun dengan cepat kutahan. Rasanya
manis. Rasa capucchino yang ia minum tadi.
“Shin..shinwoo
ya???” tanay nya sambil menyentuh bibirnya. Aku hanya tersenyum.
“Jaljayo”
ucapku lalu melajukkan mobil kearah rumah. Aku senyum sendiri ketika mengingat
kejadian barusan. Sungguh malu sekali.
*Gaeun POV
Aku masih
tak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Dia.. dia menciumku.. itu ciuman
pertama ku. Ya tuhan.. bagaimana ini?? Aku semakin menyukainya. Apa yang harus
aku lakukan??
From : Park Subin
Gaeun ya.. bagaimana rasanya??
Aku
mengerutkan dahi. Apa yang dia bicarakan? Rasa apa?? OMO!!!
Dengan
cepat aku membalas pesannya.
To : Park Subin
Kau?? Kau melihatnya?? Kau dimana sekarang??
Dengan
panic, aku keluar rumah dan kudapatkan subin sedang tertawa cengengesan.
Aiissshh anak ini melihatnya. Bagaimana ini?? Bagaimana jika dia meyebarkannya
ke Gongchan?? Aiihhh
“ya!!
Masuk!” ucapku, dia tersentak dan tersenyum padaku. Kami masuk.
“Oetthe??
Rasanya manis kah??” tanyanya menggodaku. Aku malu ditambah kesal. Ahhh dia
melihatnya!!!
“Kau
melihatnya??” tanyaku
“Bukan
hanya itu,aku juga mengmbil gambar kalian berciuman. Kalau gongchan tau, dia
pasti akan bilang pada sajangnim. Kkkkk” ucapnya. dia tak bisa berhenti
tertawa. Membuatku kesal dan jengkel.
“jangan
perlihatkan pada siapapun, cukup kau dan aku.. ne” mohonku. Dia berpura pura
berpikir. Aihhh so jual mahal sekali anak ini.
“Subin-ya..
ne, aku mohon..” ucapku sekali lagi
“Ne, tenang
saja. Hahahaha” jawabnya sambil tertawa lepas. Tawanya bisa membuat seorang
raksasa datang kerumahku.
“Ohh iya,
ngomong ngomong, kau menyukainya??” Tanya subin. Aku hanya bisa diam. Entahlah,
aku menyukainya, tapi rasa itu tiba tiba datang dan tiba tiba pergi. Aku masih
bingung dengan perasaanku.
“ya!!
Kenapa diam??” tanyany lagi.
“Ani,
subin-ya.. aku masih bingung dengan perasaanku. Terkadang aku merasa aku
mnyukainya lebih dari sekedar teman, tapi terkadang rasa itu sering datang dan
pergi begitu saja. Aku bingung.” Ucapku
“Mungkin
itu yang dinamakan cinta..” lanjutku
“Kau bukan
hanya menyukainya! Kau mencintainya Gaeun-ya!!” teriak subin tepat 10 cm dari
telingaku.
“Ya!! Aku
bisa mendengar yang kau ucapkan! Tak usah berteriak seperti itu!!” garangku.
Dia hanya tersenyum maaf.
“Itu
namanya cinta?? Aku mencintai shinwoo???” tanyaku.
“Gaeun-ya…
aku haus, dari tadi kau tak memberiku apapun. Hanya curhat tentang pangeran
kacamatamu itu.” Ucapnya. oh iya, aku lupa member dia minum.
Aku lantas
menuju dapur dan membuatkan sebuah capucchino hangat untuk subin.
“Kau sangat
menyukai capucchino??” tanyanya. Aku mengangguk.
“Kalian
jodoh!” teriaknya lagi. Aku sudah memperingatinya untuk tidak berteriak. Anak
ini!!
“Jangan
berteriak subin-ya..” ucapku lemas.
“Mianhae” ucapnya
singkat
“jodoh
apa?” tanyaku.
“Kau dan
shinwoo. Capucchino couple. Kalian sama sama menyukai capucchino.” Ucapnya.
oya?? Aku baru sadar akan hal itu.
“Sudahlah,
kajja kita tidur!” aku menariknya ke kamarku. Malam ini dia akan menginap
dirumahku. Dia bilang orangtuanya sedang pergi ke busan.
*Author POV
“Selamat
tinggal” ucap gaeun saat dia menaiki taksi meninggalkan subin dirumahnya.
From : Shin Dong woo
Aku menunggumu di depan kelas, cepat ya^^
Gaeun hanay
tersenyum membaca itu. Tak lama kemudian, dia sampai di kampus dan memasuki
kelasnya. Terlihat shinwoo yang menunggunya di kelas.
“Sudah
lama??” tanay gaeun.
“Iya, sudah
sangat lama. Aku pegal menunggumu. Kajja” ucap shinwoo sambil menarik gaeun
keluar.
“Mau
kemana?? Aku ada kelas hari ini shinwoo-ya” ucap gaeun.
“Bimil”
ucap shinwoo. Gaeun hanya tersenyum simpul.
---
“Ini cocok
untukmu” ucap shinwoo saat gaeun memakai bando berbentuk telinga kelinci. gaeun
tersenyum manis.
“Seharusnya
kau yang memakainya.” Ucap gaeun sambil memasangkan bando tersebut di kepala
shinwoo.
“Kau kan
seperti kelinci” ucap gaeun lalu meninggalkan shinwoo yang masih memperhatikan
dirinya di depan cermin.
Mereka
berdua sedang berada di taman hiburan. Ini adalah pengalaman pertama gaeun di
taman hiburan bersama namja yang bukan keluarganya. Mungkin agak berbeda untuk
gaeun.
“Ayo naik
itu” ajak shinwoo pada sebuah roll coaster yang besar. Gaeun tersentak dan
menarik tanganny dari shinwoo.
“Wae??”
Tanya shinwoo.
“Itu,
menakutkan” jawab gaeun takut. Shinwoo mendektinya dan merangkulnya.
“Ada aku,
kau akan baik baik saja” ucap shinwoo. Gaeun terpana atas ucapan shinwoo.
Lelaki pertama yang mengatakan hal romantis itu kepada gaeun. dengan kekuatan
yang diberikan shinwoo padanya, gaeun pun mengikuti shinwoo.
Shinwoo
menggenggam tangan gaeun erat. Mereka saling bertatapan.
“Gumawo
shinwoo-ya” ucap gaeun.
“Untuk
apa??”
“Untuk
selama ini.” Ucap gaeun.
“Hey,
Jangan bicara seperti itu.” ucap shinwoo
Roll
coaster pun mulai berjalan dan lebih cept. Semua penumpang berteriak tak terkecuali
gaeun.
“Saranghae!!!!!
Jo Gaeun Saranghae!!!” teriak shinwoo. Gaeun mendengarnya sekilas dan menatap
shinwoo yang tengah menatapnya.
“Nado
saranghaeyo Shin Dong Woo!!” balas gaeun. mereka tertawa bersama dan tersenyum
satu sama lain.
--
*Gaeun POV
Sungguh
hari yang melelahkan. Kami menaiki banyak hawana prmainan yang menantang. kami
juga membeli gula gula bersama. Sungguh indah dan romantic.
“Ini
untukmu” ucap shinwoo, aku menoleh dan mendapatkan shinwoo sedang menyerahkan
sebuah kalung berbentuk hati terbelah.
“Apa ini??”
tanayku.
“Ini adalh
kalung pasangan. Ini untukmu dan ini untukku” ucap shinwoo. Kalung pasangan??
Sungguh romantic, ini seperti mimpi. Aku sering melihat adegan ini di drama
drama tv.
“Pasangan??”
tanyaku.
“Ne, kau
dan aku pasangan. Mulai saat ini, kau adalah pasanganku. Kau maukan menjadi
pacarku??” tanay shinwoo. Aku menoleh ke arahnya yang tengah menatapku serius.
Aku bingung, apa yang harus aku jawab??
“Diammu ku
anggap iya. Ayo kita pulang. Sudah malam” ucapnya lalu menarikku ke luar.
Diamemintaku
menjadi pacarnya?? Ya tuhan ini benar benar beruntung. Terima kasih tuhan.
--
*Shinwoo
POV
Aku
mengajak gaeun menuju apartementku. Sebenarnya aku ingin memperkenalkannya
kepada orang tuaku. Tapi sayangnya hari ini hujan, dan mereka tak bisa datang.
“Tidak apa
apa kah?” tanyaku memastikan.
“Gwaencanhayo,
mungkin karena ujan mereka tak datang.” Ucap gaeun. aku tersenyum. Dia sungguh
mengerti aku, kami menaiki lift dan berheti tepat di lantai 7.
Ting
Lift
terbuka dan aku tersentak melihat seorng yang taka sing bagiku.
“Neo???”
To Be
Continued
Mian ya
kalo jelek, RCL pelase. Hargai ya.. J
Buat
lanjutannya aku pasti bakal cepet dan semanga.Mohon pengertiannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar